16 Contoh Teks Anekdot, Penuh Sindiran tapi Menarik dan Lucu

Pada suatu pagi yang cerah, seorang pria datang dengan langkah tergesa-gesa memegang telinganya karena luka bakar.

Dokter: “Ada apa dengan telinga Anda, Pak?”
Pasien : “Begini dok, ceritanya waktu itu saya sedang menyetrika baju tiba-tiba telepon berdering dan berdering. Lalu karena refleks, akhirnya saya pasang setrika di telinga kiri saya, Dok.”
Dokter: “Oh, begitulah ceritanya, saya pasti tahu bagaimana perasaan Anda. Lalu, bagaimana dengan telinga kanan, Pak?”
Pasien: “Nah, ini masalahnya, Dok, si idiot itu menelepon saya kembali…”

5. Tentang Kebersihan

Suatu hari, ada seorang petugas kebersihan yang sedang menyapu jalan-jalan kota. Tiba-tiba dari arah barat ada pengendara yang membuang sampah dari jendela mobil. Karena kesal, petugas kebersihan akhirnya berhenti menyapu dan berteriak sekencang-kencangnya.

“Woyyyy.. kalau buang sampah lihatlah. Jangan buang sampah sembarangan. Hargai aku saat aku bekerja!”

Kemudian mobil berhenti, dan dari dalam keluar seorang pria rapi dengan kemeja dan dasi. Akhirnya petugas kebersihan memilih untuk mendekati orang tersebut.

“Pak, tidak apa-apa jika Anda tidak membuang sampah di jalan? Ini sulit untuk saya bersihkan!” kata petugas kebersihan dengan kesal.”
“Maaf pak, saya tidak bermaksud seperti itu,” jawab pria itu.
“Tetap tidak mempermasalahkan alasannya meski sudah ketahuan,” kata petugas kebersihan.
“Jadi Pak, hobi saya bermain basket, dan saya mencoba untuk berlatih dengan membuangnya ke tempat sampah di sana.” Pria berdasi itu menjawab sambil menunjuk ke tempat sampah terdekat.

Akhirnya petugas kebersihan meninggalkan percakapan sambil bergumam pada dirinya sendiri, “Begitulah, orang-orang akhir-akhir ini semakin aneh.”

6. Sama-sama Pencuri

Ridwan dan Yusuf menonton televisi di pos patroli. Mereka melihat kasus pencurian seikat pisang, pelakunya dipenjara selama 5 tahun.

“Para koruptor negeri ini hanya dipenjara selama 1 tahun dan masih bisa bepergian,” kata Yusuf bingung.
“Pemerintah lebih concern pada satu tandan pisang. Jadi hukumannya lebih lama dari pencuri dasi,” jawab Ridwan membuat Iman mengangguk paham.

7. Penjual Roti

Suatu hari Senin pukul 09.30, ada seorang tukang roti yang lewat di depan rumah saya. Tidak lama kemudian, salah satu teman sekelas saya bernama Dani, memanggil tukang roti. Tak butuh waktu lama bagi tukang roti untuk menghampiri Dani yang sedang duduk santai di depan rumahku.

Dani: “Roti apa yang kamu jual, Bang? Bagaimana rasanya, apakah semuanya baik-baik saja?”
Penjual roti : “Banyak, Dek, ada macam-macam, tentu rasanya enak, Derek.”
Dani : “Wah, enak kan kalau enak bang, ini roti apa mas?”
Penjual roti : “Iya Dek, roti ini rasanya seperti coklat, Dek.”
Dani: “Oh ya, coklat, roti ini ada rasa apa, Kak?”
Penjual roti: “Roti ini ada selai strawberry di dalamnya, dek, jadi rasanya seperti strawberry.”
Dani : “Roti ini rasanya seperti apa, Bang?”
Penjual roti : “Roti ini rasanya seperti nanas, Dek.”
Dani : “Jadi roti yang asli mana nih gan? Dari tadi kok ngomongin buah-buahan terus gak ngomongin roti sama sekali? Sebenarnya abang ini jualan buah atau jualan roti gan? bingung gan, kalo begini ane gak beli gan,,,,,,bingung banget..
Penjual roti : (diam sejenak)

Tidak lama kemudian, tukang roti itu langsung pingsan.

8. Tentang Sosial

Suatu hari ada dua orang kakak beradik yang sedang asyik mengobrol sambil menonton acara televisi di acara berita di sebuah saluran. Sembari menonton acara tersebut, mereka saling adu mulut dan bertukar pendapat tentang apa yang mereka tonton, yakni pemberitaan berita organisasi dan sejumlah istri pejabat yang sedang sibuk jalan-jalan ke luar negeri.

“Lihat saja ibu, dek terlihat dari atas ke bawah memakai barang-barang mewah. Semua yang digunakan adalah barang-barang bermerek impor, dan semuanya kompak.”
“Itu masalah kak? Itu hak mereka untuk menggunakan barang dan pakaian merek apa pun, bukan urusan kita.”
“Mungkin semua itu terlihat sangat elit tapi jika melihat penampilan rambut coklat muda mereka, dipoles seperti bule, selain itu pakaian yang mereka gunakan semuanya berwarna baby pink dan sepatu yang mereka gunakan terlalu tinggi. seorang pejabat berpakaian seperti turis?”
“Tahukah kamu bahwa mereka pergi ke luar negeri untuk mengadakan konser,” kata sang adik sambil tersenyum.

9. Berangkat untuk Sholat berjamaah

Azan Maghrib berbunyi, Maulana dan Ridwan belum berangkat karena menunggu Yusuf.

tanya Ridwan. “Menurutmu Yusuf akan datang, bukan?”
“Dia harus datang, karena dialah yang mengundang kita untuk berjamaah Maghrib di masjid.” jawab Maulana.

Sekitar 10 menit mereka melihat Yusuf datang dengan cara berjalan yang aneh.

Ridwan bertanya, “Dari mana saja kamu dan mengapa kamu berjalan aneh?”
Joseph menjawab, “Saya ingin pergi ke gereja. boleh kata pak ustadz setiap langkah kaki ke masjid menjadi pahala. Jadi saya berjalan sedikit demi sedikit agar pahala saya banyak, begitu!”
“Terserah kamu, kita berdua mau pulang lagi.” Ridwan dan Maulana meninggalkan Yusuf.

10. Kuli dan Kyai

Rombongan jemaah NU asal Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi. Segera kuli-kuli dari Yaman berebut untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua kuli terlibat pertengkaran serius dalam bahasa Arab.

Melihat hal itu, rombongan jamaah haji spontan mengerumuni mereka sambil mengucapkan Amin, Amiin, Amiin.

Gus Dur yang berada di bandara mendekati mereka dan berkata, “Mengapa kalian berkerumun di sini?”
“Mereka terlihat sangat fasih dalam berdoa, apalagi memakai sorban, mereka harus kyai,” kata peziarah.

11. Kesehatan

Suatu hari selama bulan puasa, seorang kakek tinggal bersama cucunya yang sedang menonton televisi. Seperti biasa sang kakek sedang menonton acara favoritnya yaitu “Gundul Gundul Kudanil”. Setiap dua puluh menit muncul iklan, salah satu iklan yang muncul adalah iklan obat sakit kepala. Iklan tersebut menjelaskan bahwa obat tersebut dapat diminum kapan saja.

Saat menonton televisi, kepala kakek tiba-tiba terasa sakit. Sang kakek segera memanggil cucunya yang sedang bermain di kamar untuk membeli obat sakit kepala. Setelah cucunya pulang, kakek itu langsung meminum obatnya.

Cucu yang melihat kejadian itu langsung bertanya, “Kakek puasa, kenapa minum obat?”
Tanpa ragu dan terlihat polos, lelaki tua itu menjawab, “Tidak apa-apa obat bonex cu, kamu bisa meminumnya kapan saja!!!”

12. Becak tidak diperbolehkan masuk

Saat menjadi Presiden, Gus Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan Mahfud MD tentang orang Madura yang katanya sangat cerdas dan pandai.

Ceritanya, ada tukang becak asal Madura yang ditangkap polisi saat melanggar rambu “Becak dilarang masuk”. Pengemudi becak memasuki jalan yang terdapat tanda becak yang dilintasi garis hitam, yang artinya jalan tersebut tidak boleh dimasuki oleh becak.

“Apakah kamu tidak melihat gambarnya? Itu fotonya nggak boleh masuk jalan ini”, bentak Pak Polisi.
“Oh, saya lihat Pak tapi itu gambar becak kosong tanpa sopir. Becak saya kan jalan, tidak kosong, berarti boleh masuk,” jawab tukang becak.
“Bodoh, kamu tidak bisa membaca? Di bawah gambar itu ada tulisan bahwa becak dilarang masuk.”, bentak polisi lagi.
“Tidak pak, saya tidak bisa membaca, jika saya bisa membaca maka saya akan menjadi polisi seperti bapak, bukan tukang becak seperti ini,” jawab tukang becak sambil tersenyum.

13. Hasil Tes

Ichsan pulang dari sekolah hari itu dengan wajah lelah, lalu Ibu bertanya tentang pengulangannya.

“Bagaimana ulangannya, Ichsan?” Ibu bertanya.
“Ichsan mendapat 10 soal tapi hanya 1 soal yang jawabannya benar Bu,” jawab Ichsan.
“Tidak apa-apa, yang penting Ichsan sudah mengisi semua pertanyaannya,” ibuku menghibur Ichsan.
“Maksudku, Ichsan hanya mengerjakan satu soal dan sembilan lainnya tidak,” kata Ichsan ketakutan dan wajah ibuku memerah.

14. Peduli lingkungan

Pada Minggu pagi yang cerah, di Balai Desa, diadakan sosialisasi tentang kebersihan sampah di lingkungan desa. Dalam penyuluhan tersebut, kepala desa memberikan arahan mengenai sampah plastik yang berdampak sangat buruk bagi lingkungan.

“Bapak dan Ibu, dalam membuang sampah jenis plastik sebaiknya dibuang pada tempatnya.” kata kepala desa.
“Karena sifat sampah plastik ini yang tidak mudah terurai, saya menyarankan agar Anda semua mendaur ulang dan memanfaatkannya secara langsung.” dia menambahkan.

Setelah acara usai, seluruh peserta diberikan sajian berupa makanan dan minuman dalam wadah berbahan dasar plastik. Warga kemudian berbondong-bondong mengumpulkan sampah plastik tersebut dan mengemasnya ke dalam tas milik kepala desa.

Kepala desa bingung dengan tindakan warga, dan bertanya, “Mengapa Anda memasukkan sampah ke dalam tas saya?”
Warga juga mengatakan, “Sebelumnya bapak sendiri yang mengatakan bahwa sampah plastik itu sangat berbahaya dan tidak mudah terurai. Jadi, kita semua kumpulkan semua sampahnya agar bisa didaur ulang.”

Mendengar hal itu, kepala desa langsung berpamitan dan pulang.

(foto: pexel/pixabay)

15. Jawab dengan Benar

Yusuf ditelepon oleh Ibu Yeti saat jam istirahat sekolah.

“Yusuf, saya tidak melihat jawaban Anda di karangan. Yang ada hanya tulisan yang benar,” kata Ibu Yeti sambil menunjukkan kertas ujian Yusuf.
“Oh, boleh itu perintahnya, bu. Di sana dia mengatakan dia harus mengisi setiap jawaban dengan ‘Benar’. Jadi, saya menulis jawaban yang benar dalam esai. Yusuf pintar bukan, Bu?”

16. Berbagi Buku

Pagi ini Ibu Yeti memberikan satu buku kepada dua siswa.

“Anak-anak, sekarang kalian saling berbagi buku. Jadi semua bisa belajar bersama,” kata Ibu Yeti.
“Bu, saya sudah membagikan buku itu!” Seru Ridwan sambil menunjukkan buku paket yang terbelah dua. “Satu untukku, satu untuk Maulana.”
“Ridwan!!!”