6 Cerita Sedih Tentang Cinta yang Menusuk Hati

Cerita Sedih – Cerita tentang cinta tak akan pernah ada habisnya. Perpaduan antaranya bahagia dan berbung-bunga selalu menghiasi perjalanan cinta antara dua insan tersebut.

Namun seperti kehidupan, kisah tentang cinta juga menorehkan kesedihan yang mendalam bagi yang menjalaninya.

Tak jarang cerita sedih tentang cinta ini diabadikan oleh penulisnya untuk membagi cerita. Tak hanya itu, cerita sedih tentang cinta juga memberikan pelajaran bagi pembacanya untuk terus waspada dengan cinta.

Di mana cerita sedih tentang cinta ini juga berakhir dengan berbagai cerita, ada yang bahagia dan sedih.

Seperti cerita sedih ini, tak semua kisah nyata tapi saat membacanya kamu juga akan hanyut menghayati cerita tersebut. Jika suka tulis menulis, kamu juga bisa lho melakukan karya yang sama.

Baca juga: 136 Kata-kata Kecewa, Ungkapan Rasa Hati yang Terpendam

1. Sorot Pelangi

oleh Syarima

Pagi yang seperti biasa, murid-murid melangkahkan kaki nya dengan senyuman lebar dipipi nya. Termasuk Rio, kapten basket sekolah yang banyak digandrungi oleh para wanita ini seperti biasa mengawali rutinitas nya bersama Ara, sahabat karib nya yang di kenal sejak ia duduk dibangku sekolah dasar. Rio dan Ara selalu melakukan hal bersama-sama, layaknya seorang kakak dengan adik nya mereka pun selalu berusaha untuk membuat sebuah semangat setiap hari nya dengan bersama-sama.

Rio yang dikenal sebagai kapten basket sekolah ini adalah salah satu dari sekian banyak orang yang selalu menebarkan senyuman untuk semua orang, seperti pelangi.. sinar mata Rio mampu memancarkan aura positive bagi orang-orang yang melihat nya. Seorang siswa berprestasi ini mampu memikat semua wanita yang ada di sekolah. Tapi sayang, sejak dulu Rio tidak pernah mengerti apa itu “mencintai dan dicintai”. Sangat bertolak belakang dengan Ara, hampir semua wanita pernah menjadi tambatan hatinya. Tidak jauh beda dengan Rio.. paras wajah Ara juga mampu membuat wanita jatuh hati pada nya.

Hari-hari mereka penuh canda dan tawa, selalu ada lelucon dalam persahabatan mereka. Sampai akhirnya mereka bertemu dengan Shilla.. gadis cantik dan baik hati ini datang di kehidupan mereka. Seakan mengubah hidup Rio, semenjak mengenal Shilla diam-diam Rio menyimpan rasa pada Shilla. Hanya Ara yang tahu semua cerita Rio tentang Shilla.

“Kapan nih lo mulai deketin Shilla? Hati-hati, sob! Keburu di gebet orang”.. celetuk Ara saat bel istirahat berbunyi. Jawab Rio dengan santai.. “ah! Lo kayak baru kenal gue sehari aja.. minder gue bos deketin cewek cantik kayak Shilla. lo tau sendiri gimana penyakit gue sekarang”. perdebatan mulai panas saat mereka membicarakan wanita ini, satu-satu nya wanita yang bisa membuat jantung Rio seakan berhenti berdetak saat dua mata mereka saling bertatapan.. “kapan lagi?! Ayolah tunjukin dan kejar cinta lo itu. Gue yakin lo bisa!”.

Waktu terus berputar, kalimat Ara selalu menjadi hantu dalam ingatan Rio.. sebenarnya bukan karena alasan itu yang membuat Rio merasa tidak pantas untuk Shilla. faktor keluarga yang menjadi salah satu alasan kuat Rio, kurang lebih sudah dua tahun Ibu Rio menjadi single parent. Semenjak itu Rio berjanji hanya ingin membahagiakan wanita tercantik nya itu, yang menurutnya adalah Ibu nya.

Alasan lain yang membuat Rio takut adalah Glioma, katagori besar kanker tumor premier yang berasal dari sel-sel glia. Jenis kanker yang dimulai dari otak atau tulang belakang. Rio adalah salah satu penderita kanker tulang belakang yang mungkin mempunyai presentase untuk dapat bertahan hidup hanyalah 50%. Walau awalnya merasa bahwa kanker tersebut adalah sebuah tamparan hebat yang membuat hidupnya sama sekali tidak memiliki arti lagi, Rio secara perlahan memulai mencoba untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan ketegaran dan besenang-senang dengan sahabatnya, Ara. Juga wanita yang di cintainya Shilla.

Ara selalu memotivasi dan meyakinkan Rio bahwa ia layak untuk mendapatkan cinta Shilla. singkat cerita cahaya kehidupan Rio mulai hadir kembali, Shilla yang selama ini didambakan nya sudah menjadi kekasih nya. berkat Ara yang selalu meyakinkannya. “Tuh.. gue bilang juga apa! Lo tuh selalu deh jangan suka putus asa sebelum mencoba. Terbukti kan sekarang Shilla bisa lo dapetin!”. Ujar Ara sambil merangkul pundak sahabatnya itu. “Sekarang gue percaya kalau selama berusaha gue pasti bisa dapetin apa yang gue mau. Makasih banget nih, Sob! Gue coba buat nikmatin hidup gue ini.” Tegas Rio dengan penuh semangat.

Seminggu kemudian Rio datang menemui dokter yang rutin ditemui nya setiap minggu untuk mengetahui bagaimana perkembangan Glioma di tubuh Rio, seakan tersambar petir saat Rio mendengar diagnosa tentang penyakitnya yang diutarakan oleh dokter.. “sel kanker di tulang belakang kamu makin menebar, harapan hidup penderita glioma mungkin hanya 46,33 bulan dengan rentang waktu 38-55 bulan” ucap dokter.. semua hening, waktu terasa berhenti saat vonis itu di jatuhkan pada Rio. Tapi Rio tidak berhenti disitu saja. Ia lebih menikmati hidup nya mulai hari itu dengan Ara sahabat karib nya dan Shilla wanita yang di cintainya.

Kehadiran kanker dalam hidup Rio telah membuat hubungan antara dirinya dengan kekasihnya, Shilla dan Ibumya menjadi begitu terguncang. Di sisi lain penyakit kanker tersebut kemudian membawa Rio untuk mengenal beberapa karakter baru dalam kehidupannya yang mampu membuatnya lebih merasa bahagia atas kehidupan yang telah dijalaninya selama ini.
“Promnight tinggal nunggu hari nih, kita jadi dateng bertiga Ara, kan?” tanya Shilla pada Rio. “jadi dong.. kita bertiga nanti bareng-bareng ya kesana.” Ujar Rio dengan semangatnya.

Malam itu pun datang, semua anak terlihat bahagia saat promnight. Malam ini bisa di sebut sebagai malam perpisahan karena seminggu lagi mereka akan mengadakan hari perpisahan dan kelulusan. Rio lulus dengan nilai yang memuaskan, peringkat pertama dapat diraih nya dalam Ujian Nasional tahun ini. Begitupun dengan Ara.. walaupun tidak sama dengan peringkat Rio, namun Ara mendapatkan universitas yang ia idamkan sejak dulu. Tidak ketinggalan denga Shilla, wanita yang di cintai Rio ini benar-benar lulus dengan hasil memuaskan juga di terima di salah satu universitas kedokteran.

“Hai semuanya… gue mau ngomong sesuatu nih..”. tiba-tiba terdengar suara Rio yang berbicara di tengah kerumunan teman-temannya.. “gue itu sebenernya mengidap Glioma,lhoooo.. kanker tulang belakang dan udah akut banget.. hahahahaha” Rio mengutarakan kaliamat itu dengan nada lelucon dan tertawanya yang cukup keras. Dari sisi lain ada Ara yang menarik Rio dan berkata, “hahahaha lo semua kayak gak tau Rio aja, dia kan biasanya suka bercanda.”

Semua hening, antara percaya atau tidak namun semua teman-teman Rio sekejap merasakan khawatir, tidak lain adalah Shilla.. tersentak menangis saat mendengar kalimat Rio tadi. “Gila lo,Yo! Ngomong apasih lo barusan? Mau buat perhatian baru di sekolah?” Tanya Ara dengan sinis. Dan dengan lantang nya Rio menjawab, “gue Cuma bercanda kali, dan seenggak nya biar mereka nanti gak tanda tanya waktu ngeliat gue udah meninggal”. “heh ngomong apa sih lo?!” Tegas Ara.

Hari yang di tunggu-tunggu datang. Kelulusan itu sudah didepan mata. Semua siswa antusias dengan hari ini, entah apa yang istimewa hari ini.. tapi tetap saja bagi Rio hari ini masih seperti hari biasanya, tanpa ada yang istimewa kecuali hadir nya Shilla yang ada di sampingnya. Hari yang aneh.. tidak biasa-biasanya Rio memeluk Shilla dengan erat, “Shilla.. kamu harus jadi dokter. Kelak suatu saat nanti mungkin Cuma kamu satu-satu na dokter yang bisa sembuhin penyakit aku”. Kata-kata Rio yang membuat Shilla bertanda tanya.

Mala petaka itu datang, saat semua siswa bahagia mendapatkan kelulusan. Namun tidak untuk Rio… “Yo…bangun! Rio kenapaa?!”. Suara teriakan itu datang dari belakang panggung. Ternyata Rio sudah terbaring di lantai, dengan darah yang menyelimuti hidung hingga setengah wajah Rio. Semua panik.. haru biru pun terasa di hari perpisahan ini. Semua darah penuh di setengah wajah Rio, bahkan mata itu.. mata yang mempunyai sorot seperti pelangi seakan redup, habis, dan mati tenggelam merah nya darah itu. Hari perpisahan yang mungkin tidak hanya untuk para siswa. Namun juga untuk Rio.

2. Bahagia Untukmu
oleh Mochammad Bayu Seto

Satu tahun yang lalu, kekasihku Rupol pamit untuk pergi merantau ke Kalkuta (kini Kolkata). Ia berencana mencari pekerjaan dan tempat tinggal di sana. Sebelum pergi, Rupol berjanji bahwa dalam waktu dua tahun ia akan kembali untukku.

Kami saling berkirim surat, terkadang ketika memiliki uang lebih, aku menghubunginya lewat telepon. Meski jauh, tapi cintaku padanya tidak berubah.

Suatu hari ia mendapat promosi, dalam suratnya ia berkata bahwa mungkin akan lebih sibuk. Aku bahagia untuknya, namun aku sedih karena rindu. Surat yang tadinya datang tiap minggu berubah menjadi bulan hingga perlahan hilang.

Untuk melepas rindu, jalan satu-satunya hanya lewat telepon. Meski harus berjalan dulu beberapa kilometer untuk menelponnya, aku rela.

Dua bulan yang lalu, mendadak datang sebuah surat dan paket dari Rupol. Agak aneh karena sudah lama ia tidak mengirim surat lagi. Tapi dengan riang kubuka dan kubaca surat itu.

“Vani, maafkan aku melanggar janji. Tapi aku memutuskan untuk segera menikah dengan bosku. Kuharap kamu mau memaafkanku. Di dalam kotak ada undangan dan tiket kereta. Aku tidak akan memaksa, tapi jika kamu hadir aku akan senang sekali.”

Kubaca surat itu berulang kali, masih tak percaya dengan isinya. Aku sedih dan marah, kurobek surat itu sambil menangis sejadi-jadinya.

Selama berhari-hari aku merasa seperti mayat hidup. Mengurung diri di kamar, hanya menangis meratapi nasibku.

Tiga hari yang lalu aku tiba di Kalkuta untuk menghadiri pernikahan Rupol. Ikhlas? Bukan, aku ingin mengamuk di pesta itu. Aku tidak peduli bagaimana buruknya nanti.

Aku sampai di depan rumah mempelai, kulihat semua orang tersenyum bahagia. Keluarga Rupol dan istrinya menyambut tamu dengan hangat di depan. Ibu Rupol bahkan memelukku dan berterima kasih sambil menitikkan air mata.

Kulihat di pelaminan, Rupol dan istrinya saling memandang, wajahnya sangat bahagia. Langkahku mendadak menjadi berat, nafasku menjadi sesak. Rasa marahku perlahan gugur semakin mendekati pelaminan.

Sampai tiba giliranku memberi selamat pada mempelai, kulihat mata Rupol berkaca-kaca. Entah kerasukan apa, aku malah tersenyum sambil mengucapkan, “Selamat, aku bahagia untukmu.”

(foto: pexel/burakkostak)

3. Tulang Rusuk Yang Hilang

Sore itu aku merasakan ada yang sakit di dadaku, entah apa aku tak tau, apa yang membuat perasaanku gelisah. Semakin ku hindari dan tak ku rasakan sakit itu, semakin terasa dan semakin menjadi-jadi. Ada apa? Apa yang terjadi? Hatiku selalu bertanya-tanya dalam kesendirian ku ini.

Hari semakin malam, aku duduk di teras depan rumahku, tubuhku ku sandarkan ke dinding dengan kepala mendongak ke langit memandangi bintang yang bertaburan seperti membentuk sebuah simbol senyuman. Terlena aku ketika memandang bintang-bintang tersebut. Sampai-sampai tidak merasakan sakit di dadaku. Kupandangi dan terus kupandang hingga mendung datang menutupinya, mengagetkanku dan aku kembali merasakan sakit itu.

“ Roy.. “
Terdengar suara memanggilku. Aku menoleh kebelakang, dikejauhan nampak seorang wanita memakai baju berwarna hijau, ia melambaikan tangannya, seolah memanggilku untuk segera kesana.
“ Kamu tau kan hari ini tanggal berapa? “ tanya welsa, wanita yang akan menjadi istriku.
“ Tau dong, hari ini kita mau fitting baju pengantin kan? “
“ Kita bisa berangkat sekarang kan? “
“ Tentu “ jawabku singkat.
Aku dan welsa bergegas menuju Boutique tempat kita fitting baju pengantin untuk pernikahan kita besok. Sesampai disana welsa memilih-milih gaun yang menurutnya cocok untuk pernikahan kita nanti. Aku bahagia melihat welsa sangat antusias dan terkesan tidak sabar untuk menjajal gaun tersebut. Ketika welsa keluar dari kamar pas aku hanya bisa diam mematung, menikmati keindahan yang ada didepanku saat ini. Ia begitu cantik mengenakan gaun itu. Dalam hatiku berkata aku tidak salah menemukan tulang rusuk seperti dia. Bukan hanya cantik wajah, hati dan sikapnya sopan yang bisa membuat laki-laki mampu terhipnotis olehnya.
“ Sayang, kamu cantik sekali memakai gaun itu. “ kataku sambil membelai rambutnyang terurai lurus itu. Ia hanya membalasnya dengan senyuman manja.
“ Aku tidak salah menemukan tulang rusuk sepertimu. “
Ada tertulis. Tuhan melihat Adam kesepian, saat Adam tidur Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan hawa. Karena itu semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya ia tidak lagi merasakan sakit dihatinya.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari ini adalah hari pernikahanku dengan welsa, tidak ada yang tidak berbahagia pada hari itu. Semuanya para undangan sangat berbahagia menyaksikan kebahagiaan dua insan yang disatukan dalam ikatan suci sebuah pernikahan.
Hari terus berlalu usia pernikahan kami sudah memasuki angka 3 tahun. Selama 2 tahun kami sangat bahagia walaupun kami belum dikaruniai anak. Tapi menginjak 3 tahun rumah tangga kami mulai tidak seharmonis dulu. Karena aku sibuk bekerja dan jarang pulang welsa selalu marah-marah padaku.
Suatu ketika, waktu aku baru pulang bekerja welsa memarahiku karena selama 1 minggu tidak memberi kabar. Disitulah mulai terjadi pertengkaran hebat, disitu jugalah aku kelepasan mengatakan yang seharusnya tidak ku katakan.
“ Kalau kamu tetap menyalahkan aku, kamu tidak suka dengan
Pekerjaanku, silahkan kamu keluar dari rumahku. Dan aku akan
Mengurus surat cerai untukmu.! “
“ Baiklah , lebih baik aku pergi dari sini, aku sudah tidak betah
Hidup seperti ini. “ jawab welsa sambil mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Akhirnya welsa meninggalkan rumahku.
Hatiku masih panas terbakar amarah. Setelah 10 menit kepergian welsa, entah mengapa tiba-tiba hatiku sakit, dadku sakit. Aku menyesal dengan apa yang telah aku lakukan. Sekarang kemana aku harus mencari welsa. Sedangkan handphonenya sulit dihubungi, dirumah orang tuanya pun juga tidak ada.

5 tahun sudah aku berpisah dengan welsa. Semenjak itu kami sama sekali tidak pernah bertemu. Yang aku dengar welsa sekarang ada diluar negeri. Dan sampai saat ini juga aku belum menemukan pengganti welsa.
Ketika aku mengantar temanku ke bandara. Sekilas aku melihat sosok wanita yang aku kenal. Ya,, dia welsa. Seseorang yang selama 3 tahun hidup dengan ku. Aku kangen sama dia, ingin rasanya aku memeluknya. Aku mencoba memberanikan diri untuk menyapanya, tapi dalam hati masih ragu, aku takut welsa masih marah atas perlakuanku 5 tahun silam. Jantung ini berdebar hebat ketika aku berjalan hampir di depannya. Karena aku takut, aku mengurungkan niatku untuk menyapanya. Tapi setelah aku dua langkah kakiku melintas didepannya, welsa memanggilku.
“ Roy, itu kamu? “
Sontak aku kaget dan menoleh padanya. Aku malu, malu pada diriku sendiri. Dengan terbata-bata aku menjawab sapaan welsa
“ i.. iya.. kamu apa kabra? “
“ Aku baik-baik saja, kamu bagaimana? “ jawabnya sambil tersenyum padaku.
Dari situ kami mulai akrab kembali. Ternyata welsa sudah melupakan kejadian 5 tahun silam. Aku bahagia karena welsa juga sudah memaafkanku.
“ Kabari aku kalau kamu sempat. Kamu tau nomer telepon kita?
Belum ada yang berubah. “
“ Tidak akan ada yang berubah. “ kata welsa dengan tersenyum manis.
Akhirnya welsa meninggalkan tempatnya berdiri, karena pesawat sebentar lagi akan berangkat.

Seminggu semenjak kepergian welsa. Aku mendapat kabar bahwa welsa kecelakaan, ia meninggal. Malam itu aku kembali merasakn sakit di dadaku. Kini aku sadar, sakit itu karena welsa, tulang rusuk ku sendiri yang dengan bodohnya aku patahkan.

4. Semua Tinggal Kenangan

Oleh: Siti Mujiati

Aku tidak pernah menginginkan semuanya terjadi seperti ini. Walau terkadang kau buatku menangis dan jengkel. Ternyata yang terjadi hanya kepalsuan yang kau berikan padaku. Dan sekarang kau tinggalkan aku, dan meninggalkan sejuta luka dan perih yang sangat mendalam di hatiku. Tapi, apalah dayaku. Semuanya sudah ditakdirkan oleh Sang Maha Pencipta.

Kisah ini berawal saat aku duduk di kelas IX SMP. Mungkin masih dini aku mengenal cinta. Tapi, inilah kenyataannya. Awalnya aku kenal dia saat aku berada di rumah temanku. Pada waktu itu, aku dan dia hanya berteman. Tapi, seiring berjalannya waktu, hubungan kami pun semakin akrab. Jujur saja, aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi.

Sudah 1 bulan hari-hari kulewati bersama Amat. Namun sepertinya aku mulai ada rasa padanya.
“entah rasa pedas, asin, pahit, atau manis. Tapi, apapun yang aku lakukan, aku selalu mengingatnya. Oh Tuhan, apakah ini yang dinamakan CINTA?” gumamku. Sepertinya aku mulai menyukai Amat, dan aku pun mulai menyayanginya. Tapi, apakah Amat bisa mengerti perasaanku padanya? Ingin rasanya aku mengungkapkan rasa ini. Namun, aku malu karena aku gengsi. Yang bisa kulakukan hanyalah mengunggu dan selalu berdo’a. siapa tahu, suatu saat nanti, Amat juga memiliki perasaan sama seperti yang aku rasakan.

Malam hari, ketika aku sedang duduk santai di kamar sambil memikirkannya, tiba-tiba ponselku berbunyi. Tanda pesan masuk, dan ternyata itu dari Amat. Segera aku membaca pesan darinya.
Amat: “hai Sit, aku boleh nanya nggak?”
Siti: “hai juga, boleh ko, emangnya mau tanya pa?”
Amat: “tapi kamu jawab yang jujur yaah? Kamu sebenarnya udah punya cwo belom?”
Siti: “enggak salah tuh nanyanya? Aku belum punya cwo koq, emangnya ada pa yah jadi nanya gitu?”
Amat: “sama donk, kamu mau nggak jadi cwe aku?”
Siti: “nggak salah tuch kamu ngomong gitu, jangan bercanda ach Mat!”
Amat: “aku serius Sit, jujur dengan seiringnya waktu berlalu aku mulai sayang ma suka sama kamu, apakah kamu memiliki perasaan yang sama senganku Sit?”
Siti: “gimana yah, aku harus jawab gimana?”
Amat: “jawab jujur aja koq!”
Siti: “aku sebenarnya sudah lama sayang ma kamu Mat, tapi aku malu tuk bilang ma kamu karena aku gengsi”
Amat: “jadi, sekarang kita jadian, tanggal 18, bulan September 2011”
Senangnya aku malam ini, tak sia-sia penantianku selama ini. Waktu kian berlalu. Aku semakin sayang sama Amat. Aku merasakan kenyamanan saat aku berada didekatnya. Setiap malam setelah aku belajar, aku tak lupa mengirim SMS padanya. Dan saat mau tidur pun, Amat tak lupa mengucapkan kata “I love you Cimut” padaku. Dan aku langsung membalasnya “I Love You too ayank, I will Love You Always”. Karena sebutan Cimut ialah panggilan sayang dia kepadaku.

Pada bulan Januari-April 2012, dia magang di kota Martapura yang terkenal dengan julukan Kota Intannya. Aku tak pernah curiga dengannya, meski kini aku tak pernah berjumpa dengannya, karena jaraknya jauh. Namun siapa yang tahu? Diam-diam ternyata dia di sana mulai menyukai seorang cewek yang memang dari dulu dia suka. Pada malam rabu 28 Maret 2012, poselku berbunyi. Ternyata dari Amat. Langsung kubaca pesannya.
Amat: “Cimut, age pa nih, Cimut udc maem pa blom? Tapi Cimut jangan lupa shalat ya Cimut?”
Siti: “Cimut abiz shalat isya koq ayank, Cimut dc maem koq, iy Cimut ga lupa Skalat koq ayank, ayank ge pa?”
Amat: “ayank ge bingung Cimut, enggak tau kenapa ayank jadi bingung, tapi yang jelas Cimut jangan marah ya kalo ayank mau jujur ma Cimut?”
Siti: “ya Cimut berusaha nggak marah walau kata-kata yg ayank buat Cimut nangis, ayank mau jujur tentang pa?”
Amat: “sebenarnya Cimut, ayank disini mulai suka ma cwe lain. Ayank juga bingung kenapa rasa seperti ini harus ada, sedangkan ayank sudah punya cwe yg selalu buat ayank tersenyum, Cimut bolehkan ayank punya pacar selain Cimut?”
Siti: “apa ayank?! Apakah Cimut disini kurang perhatian jadi ayank bisa suka ma cwe laen?”
Aku berhenti mengetik keypad ponselku. Dengan perlahan-lahan kumenghela nafas panjang dan air mataku mulai membasahi pipiku. Aku pun melanjutkannya lagi.
“ayank, jika ayank ingin punya kekasih lain selain Cimut, boleh saja. Asalkan kita putus sekarang juga. Karena aku tak ingin seseorang yank ku sayangi mencintai orang lain. Sedangkan aku di sini selalu menunggunya tuk kembali!”
Amat: “maafkan ayank Cimut, ayank enggak bisa mutusin Cimut karena ayank bener-bener sayang sama Cimut. Tapi disisi lain, ayank pun ingin cwe itu jadi milik ayank Cimut.”
Siti: “sudahlah ayank, jika ayank menginginkan dia, oke dengan berat hati Cimut harus pergi meski sulit melupakan seseorang yang kita sayang.”
Amat: “ayank enggak rela liat Cimut dengan orang lain”
Siti: “ayank, meski berat tapi aku nggak ada pilihan lain, makasih semuanya ayank”

Kini, aku terpuruk lemah oleh kenyataan yang kini seakan menyakitiku. Aku tak mengaktifkan ponselku selama satu minggu karena aku ingin melupakannya. Hari-hari berlalu. Aku tak tahu apa yang sedang kupikirkan. Tak beberapa lama, pintu rumahku ada yang mengetuk. Namun, sepertinya kusangat mengenal suara itu.
“Assalamu’alaikum. Siti? Siti?” kata Amat sedikit nyaring di balik pintu.
Aku pun membukakan pintu. “wa’alaikumussalam. Eh, kamu Mat. Ada apa ya datang kesini? Ada keperluan apa ya?” aku sangat bingung kenapa dia datang kemari.
“enggak. Enggak ada apa-apa kok. cuman pengen maen ke rumah kamu aja. Boleh aku masuk rumahmu, Sit?” tanya Amat.
Aku pun mempersilakan dia masuk. “boleh kok. silakan masuk, Mat.”
“Sit, kedatanganku kesini enggak sekedar maen doang kok. ada maksud lain. Aku ingin mengulangi masa-masa bahagiaku saat bersamamu, Sit. Jujur, aku sulit melupakanmu.” Ujar Amat.
“aku enggak salah denger nih? Bukannya dulu alasan kamu mau ngajak putus karena ada cewek yang kamu suka. Kenapa sekarang ngomong ingin balikan lagi? Jangan bercanda ah, Mat!” ucapku.
“iya, aku minta maaf. Rasanya berbeda dekarang, Sit. Apa kamu mau balikan lagi sama aku?” jelas Amat.
“aduh, gimana ya, Mat? Bukannya aku nggak mau, karena saat kamu bilang begitu, sangat-sangat sakit rasanya, Mat”
“yah, nggak papa kok, Sit. Kalo kamu nggak mau, aku paham kok rasanya. Eh, kayaknya aku harus pulang nih, karena besok aku masih magang.” Jelas Amat lagi.
“yah, nggak papa kok, makasih sudah mau maen ke rumah aku. Hati-hati di jalan ya?” kataku.

Aku bingung harus jawab apa. Meski aku masih sayang, tapi dia seenaknya bilang begitu padaku.ya, aku berfikir apa salahnya jika memberi harapan yang kedua kalinya. Malamnya, aku langsung SMS dia.
Siti: “malem, maaf neh ganggu waktu kamu bilang soal yang tadi sore, pa kamu serius bilang gitu?”
Amat: “iya. Aku serius koq. Kenapa salahkan aku ngomong gitu?”
Siti: “enggak koq. Ya, gimana ya, aku bingung. Apa aku harus beri kesempatan kamu lagi? Tapi rasa ini nggak bisa bohong, aku masih sayang kamu. Apa salahnya jika mengulang semuanya dari awal lagi.”
Amat: “makasih ya kesempatannya. Aku berusaha tuk SETIA ma Cimut dech. Dach larut malam, waktunya Cimut bobo yah? Besok kan Cimut harus school”
Siti: “oke dech ayank”

Malam itu rasanya kebahagiaan yang lama hilang kini kembali lagi. Tapi, aku berharap aku takkan kehilangannya. Namun, apakah ini hanya sekedar sandiwara cinta belaka padaku? Setahun berlalu bersamanya. Saat aku masuk ke sekolah SMA, awalnya belum terasa perubahan darinya. Hingga kusadari dia berubah. Dan 1 bulan 2 hari setelah ulang tahunku kemarin 2013, dirinya tidak ada kabar. Entah kemana dia. Aku benar-benar risau, hingga ku tak bisa memejamkan mata ini, karena kutakut kehilangannya lagi. Hingga kenyataan yang harus menjawab risauku. Malam yang dingin seakan menampakkan perasaan hatiku yang mulai pudar, rasa sayang karena dia hilang tanpa kabar. Hingga suatu hari bunyi ponselku ternyata ada number baru yang memanggil. Aku bingung akhirnya aku angkat, dan terdengar suara dirinya.
“sayangku yang tercinta, maafkanlah aku sudah lama tak memberimu kabar. Sepertinya hubungan kita harus putus. Cukup sampe disini kisah kita. Kuharap, kau bahagia dengan lain.” Belum kumenjawab, ternyata sudah terputus.
Saat kumendengar kata-katanya bagiku seperti pisau yang sudah menyayat hatiku. Oh Tuhan, sebesar inikah dosaku hingga orang yang kusayang haru pergi lagi? Kini hanya tinggal kenangan manis saat bersamamu.

Malam ini begitu kelam. Terlalu pekat seperti hatiku yang sedang kelabu. Kesedihan yang tak kunjung usai selalu menyelimuti. Teringat akan kenangan yang dulu pernah buatku bahagia. Tapi kini semua tinggal kenangan. Tak ada lagi canda tawa. Sekarang ku hanya sendiri melewati hari-hari tanpamu. Terbiasa bersama untuk melewati hari dengan segala keadaan. Adakah kau merasakan perasaan yang sama dengan perasaanku saat ini, Mat? Namun kuyakini bahwa kamu adalah memori tak terlupakan. Terima kasih cinta dan sayang yang pernah kau titipkan padaku. Biarlah akan tetap kujaga di sepanjang sisa hayatku.
Namun, aku sadar. Kini, ternyata saat kusedih, masih ada keluargaku yang selalu menyayangiku. Kini ku akan melupakanmu karena kau dan aku hanya tinggal kenangan. Dan aku berusaha menjadi yang terbaik dan aku yakin bahwa aku bisa meraih cita-citaku meski masa lalu yang pernah membuat semangat hidupku redup. Aku tanpamu, aku yakin aku bisa.
THE END.

5. Jatuh Cinta Lagi

Oleh: Mochammad Bayu Seto

Tahun 1991 adalah pertama kali aku jatuh cinta pada suamiku, Peter. Sayangnya ibu Peter tidak begitu menyukaiku, meski begitu kami tetap menikah. Selama 15 tahun pertama, kehidupan rumah tangga kami tidak mudah, tapi kami bahagia.

Pada 2012 terjadilah hal yang merubah segalanya, Peter divonis menderita pembengkakan otak. Selama 18 bulan pertama kami hanya berpindah dari rumah sakit satu ke lainnya untuk berobat. Keadaan yang makin memburuk membuat Peter tidak lagi bisa bicara.

Ia hanya diam saja saat aku menyuapi, memandikan, atau membersihkan kotorannya. Perlahan-lahan aku merasa jika Peter tidak lagi mengenaliku. Aku sedih dan muak dengan keadaan ini, tapi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.

Pada tahun 2014, aku mengundang keluarga untuk pesta makan malam di rumah kami. Saat itu ia hanya duduk dan melihat saat aku mendekorasi, membuka, dan memasak hidangan makan malam. Seluruh keluarga kami datang untuk merayakan, termasuk orang tua Peter.

Ibu Peter dengan santainya menata ulang ruang makan yang telah kususun. Tapi hal yang membuatku terkejut saat itu adalah Peter, saat ia meminta ibunya untuk menghentikan itu.

Meski kesulitan untuk bergerak dan berbicara, Peter tetap berusaha membela dan melindungiku. Malam itu, Peter telah membuatku kembali jatuh cinta padanya.

6 Cerita Sedih Tentang Cinta yang Menusuk Hati

(foto: pexel/juanpabloserranoarenas)

6. Pelangi Abu-abu

Hujan…..

adalah satu satunya hal yang membuat diri saya dapat merasa relaks dan tenang
entah kenapa setiap kali awan mendung menyelimuti bumi yang diiringi dengan angin dingin yang berhembus, saya menjadi sangat senang
mungkin karena banyak memori indah yang terukir saat hujan datang
disaat orang orang menghindari agar tidak basah karena hujan, saya malah berdiri ditengah derasnya hujan untuk menikmati butiran butiran hujan turun dari langit.

merasakan butiran butiran hujan membasahi tubuh, merasakan hembusah angin dingin yang menghantam tubuh, kupandang langit yang luas dimana butiran butiran hujan turun dari langit yang tak terukur luasnya. Membayangkan sampai berapa lama saya dapat merasakan kesenangan ini ? Tak lupa sebuah lagu kenangan ku nyanyikan dibawah derasnya hujan
membuat jiwa ini bergetar dan seakan tak ingin hujan berhenti. . . .

Dari sinilah kisah saya berawal, hujan yang mempersatukan ….
karena hujan saya dapat mengenal seorang gadis yang sangat mengagumi hujan.

karena menurutnya hujan itu suci, dapat membuat hati tenang, dapat menghilangkan semua penat didada, dan dapat menghapus air mata.
ku coba tuk lebih jauh mengenalnya, sosok gadis misterius pecinta hujan,
sungguh besar kuasa Tuhan, tanpa saya sadari sepertinya saya mulai merasakan rasa yang aneh didada, setiap kali tidak melihatnya saya merasa sepi, seperti halnya hujan tanpa pelangi.

kuberanikan diri untuk mengungkapkan rasa, namun Tuhan berkehendak lain, perhatian yang selama ini ia beri ternyata tidak lebih dari sekedar perhatian ke teman, kucoba tuk tetap tegar, seperti halnya pohon besar yang bertahan diterpa hujan deras.

Ku putuskan untuk mengenalnya lebih jauh, dengan tetap merahasiakan perasaan yang terpendam, seperti halnya pelangi yang tersembunyi dibalik awan hitam.

Berhari hari kita lewati sebagai seorang teman, sampai suatu saat gadis hujan bercerita tentang orang lain yang menarik perhatiannya, hati ini bergetar tak mampu menahan emosi jiwa, seperti halnya gemuruh petir yang telah menghantam permukaan bumi, ku coba tuk tetap bertahan dan tetap disisinya, namun apa daya, gadis hujan ini pun menjalin kasih dengan orang tersebut, hati ini tidak bisa berbuat banyak, disatu sisi hati ini ingin membuat gadis hujan tersebut senang, namun disatu sisi hati ini ingin memisahkan sang gadis dengan kekasihnya tersebut, berhari hari telah terlewati, sampai akhirnya sang gadis pun becerita bahwa ia sering tersakiti dengan hubungan ini, gadis hujan pun meneteskan air mata, seperti halnya butiran hujan yang suci yang terjatuh dari langit, bergetar hati ini terjebak diantara perasaan sedih dan bingung, jika hati ini bisa berkata mungkin hati ini akan berkata

“kenapa kau lebih memilih cinta yang rumit? sementara disampingmu selalu ada orang yang menyayangimu dengan tulus?”
Lagi lagi kutegaskan bahwa hati ini harus sekali lagi tersakiti, ku coba tuk menghibur sang gadis hujan tersebut, memotivasinya untuk bertahan dan meneruskan hubungannya dengan orang tersebut, biarlah hati ini saja yang tersakiti, aku tidak ingin melihat air matanya menetes lagi, biarah ku pendam rasa ini,
hatinya bagaikan pelangi berwarna abu-abu, yang tidak bisa menyadari bahwa disampingnya ada orang yang rela berkorban dan tersakiti demi dirinya, namun biarlah akan ku tunggu saat dimana hati mu dapat memahami perasaan ini, seperti halnya pelangi yang muncul setelah badai berlalu, akan ku tunggu saat dimana pelangi yang berwarna abu-abu berubah warna menjadi warna warni.

6. Lorong Thania

Oleh: Ilean Febiola

Rintik hujan menemaniku.. Ya, perlahan aku berjalan di lorong ini.. Lorong cintaku bersama Thania.. Lorong yang mempertemukan kami, merajut kisah kami menjadi hubungan cinta dua orang remaja.. Dulu kami sering jalan berdua di sini… Ya itu dulu.. Sekarang? Aku hanya sendirian.. Menikmati dinginnya suasana.. rintiknya hujan.. dan tentu saja sendirian.. Kadang aku merasa kesepian, bosan.. tetapi sungguh aku masih menyayangi Thania…

“Hey!” kata gadis itu
“Ya?” kataku
“Sendirian saja? haha..” katanya
“Maksud lo?” tanyaku
“Yeee.. aku nanya, kok cowok sekeren kamu sendirian saja? Baru diputusin pacar ya? hahaha..” tanya gadis itu
“Sok tahu banget sih lo! Belum ada cewek yang bisa ambil hati gue!” jawabku kesal
“Oh.. santai aja kali.. terus kenapa sendirian?” tanyanya lagi
Nih cewek ingin tahu banget!, “Gue.. Gue hanya lagi badmood” jawabku
“Terus kenapa kamu di lorong ini?” Tanyanya tidak berapa lama sembari jalan meniti di batu-batu taman, entah mengapa aku merasa nyaman dengan cewek ini, “gue badmood.. gue bener-bener ngerasa kesepian.. Di rumah sepi, di sekolah malas, di mana-mana gue badmood! gue butuh orang yang bisa merubah mood gue.. karena gak ada.. gue ke lorong ini..” terangku panjang lebar
“Mau coba caraku?” tawarnya
“Yakin lo?” tanyaku gak percaya
“Yakin! Makanya coba dulu..” jawabnya
“Ok! Sebelumnya, nama lo siapa? Kelas berapa, dimana?” tanyaku mencari tahu
“Udah deh… Kamu gak perlu tahu! Aku kelas 2 SMA!” jawabnya sedikit cemberut
“Kenapa? Nama gue Louis, Kelas 3 SMA.. So, lo harus panggil gue kakak! hahaha” tawaku sedikit melebur suasana
“Ih! Ya deh K-A-K-A-K!” jawabnya ngambek tapi imut
“Haha.. maaf-maaf.. thanks ya udah buat gue sedikit enjoy.. ya udah deh sekarang gue akan ikutin cara lo!” Kataku sedikit manis padanya, Gadis itu.. Cukup spesial buatku..

Hari-Hari berlalu.. hidupku mulai seperti pelangi, berwarna cerah, menyenangkan, itu semua karena dia…
“Lo! Please deh, gue mau manggil lo susah! Nama lo siapa?” tanyaku, mungkin sudah keseribu kalinya…
“Kalau kamu bisa jawab pertanyaanku, aku akan kasih tahu… pertanyaanku adalah, satu hal.. terdiri dari 5 huruf.. ehm, dia ini muncul tiba-tiba dan pergi tiba-tiba.. kita gak akan tahu kapan dia datang/pergi.. saat dia pergi kita sedih, saat dia datang kita senang.. apa hayo?” tanyanya
“Hah? Apa tuh? Pertanyaannya susah banget!” jawabku
“Pikirin ya.. besok sore aku tunggu di lorong ini sudah harus tahu ya! Bye” katanya berlari menuju jalan…

“Woy! Lo dimana? Elo gadis cantik, imut yang buat hidup gue bahagia!” teriakku, tiba-tiba ada seorang gadis yang sedang melambaikan tangan kepadaku.. Ya gadis itu… Saat gadis itu ingin menyebrang…
“Jangan!”
“Please lo jangan tinggalin gue! Jawabannya itu ‘CINTA’ sama kayak perasaan gue ke lo..” kataku padanya di kamar rumah sakit
“Akhirnya… aku ce.. cewek per.. per.. pertama kan yang dapet.. dapetin hati kamu? A.. aku.. ju.. juga suka sam.. sama kamu… namaku Thania..” katanya sekuat tenaga dan berusaha tersenyum
“Thania? Nama lo bagus.. please jangan tinggalin gue.. gue sayang sama lo!” kataku sembari meneteskan air yang berusaha ku hapus, “Please.. Ja.. Jangan lupain aku.. aku pasti akan bahagiain kamu walau jauh..” katanya dan…
“Thania!!” teriakku, ternyata aku tertidur di kursi pertama kami bertemu.. “Gue kangen lo Than.. lo janji kan akan bahagiain gue walau lo jauh dari gue? Please tepatin itu..” kataku, yang kemudian meninggalkan lorong ini…

Baca juga: 120 Kata-kata Bucin untuk yang Sedang Dimabuk Cinta

Walaupun menyedihkan tapi banyak hal yang bisa diambil dari cerita cinta tersebut. Serta harus diingat bahwa dimana ada kesedihan, disitu akan ada kebahagiaan .